Di panggung, tangan perempuan itu menggenggam sebuah pistol. Seakan-akan ia siap menembakkan pelurunya ke arah lelaki di seberangnya. Lakilaki itu berjalan dari sisi kiri panggung. Ia mendekatinya dan meyakinkan perempuan tersebut agar mempercayainya. Di layar panggung yang sama juga terlihat dalam film hitam-putih dua manusia yang beradu argumen. Si perempuan pun mengacungkan pistol di dalam kamar apartemen si lelaki. Si perempuan tertekan untuk segera keluar dari tempat itu. Pada puncaknya, dalam film tersebut, mereka membawa senapan memuntahkan peluru ke arah luar. Sementara itu, di pentas, keduanya mulai menghilang di panggung yang gelap. Dua adegan itu sebenarnya diperankan oleh para pemain yang sama. Suara yang terdengar dari panggung pun adalah satu suara yang sama yang diucapkan saat itu juga. Imitating the Dog menghelat pentas teater dengan pengalaman visual baru—menggabungkan antara teater dan film. Pentas berjudul Nocturne ini berlangsung di Teater Jakarta, Jumat, 20 Juli lalu. Kelompok teater asal Inggris ini tampil dua kali pada hari itu.

Ini penampilan kedua mereka di Indonesia. Sebelumnya mereka unjuk penampilan di Makassar pada 13 Juli lalu. Pertunjukan ini merupakan bagian dari program Lintas Media Tatabahasa (Pascakebenaran) yang digelar Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta bekerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Institut Kesenian Jakarta, serta British Council di Taman Ismail Marzuki Jakarta pada 16-22 Juli lalu. Kegiatan ini berisi sejumlah kegiatan. Selain pertunjukan, ada lokakarya, pameran, presentasi, dan diskusi. Imitating The Dog adalah satu penampil dalam rangkaian pertunjukan dan agenda seni dalam program itu. Kelompok teater Inggris ini berdiri pada 1998 dan sudah melakukan pentas keliling berbagai negara. Pentas mereka melibatkan tim artistik yang terdiri atas tiga direktur ko-artistik, yakni Andrew Quick, Simon Wainwright, dan Pete Brooks, serta melibatkan desainer Laura Hopkins, komposer Jeremy PeytonJones, dan para aktor, seperti Morven Macbeth, Laura Atherton, Anna Wilson, serta Matt Prendergast. Dalam pementasan hari itu, ada tiga penampil yang kesannya seperti mengisi suara dalam film. Mereka adalah Harry (Matt Prendergast), Amy (Laura Atherton), dan Control (Morven Macbeth). Macbeth, yang di panggung bertindak sebagai pengontrol, membagikan naskah kepada Harry dan Amy, tapi ia juga mengisi beragam suara tokoh dalam film. Penonton disuguhi pertunjukan yang mengaburkan batas-batas antara teater dan film—apakah film mengikuti pertunjukan teater langsung atau sebaliknya. Saat pentas berlangsung, mereka seperti membaca naskah film di kertas yang memaksa narasi menjaga agar akting suara film tetap menyatu dan koheren dengan di pentas teater. Mereka tampil di panggung yang ditata dengan 3 bangku, 1 meja, dan 3 mikrofon. Seorang perempuan berlaku membagikan naskah, tapi juga ikut bermain. Sedangkan dalam film ada banyak wajah muncul, seperti ada beberapa sopir laki-laki, beberapa perempuan, seorang anak, dan tentunya dua tokoh utama, yakni Harry serta Amy. Nocturnes bercerita tentang drama thriller spionase, tentang sepasang laki-laki dan perempuan yang tinggal di sebuah apartemen di Berlin dengan latar waktu pada 1959. Harry ditugasi sebagai mata-mata. Amy pun bertugas menemani Harry, tak boleh keluar dari apartemen. Dalam film digambarkan bahwa Harry selalu keluar rumah dan kembali dengan kondisi capek atau selalu basah kehujanan. Sedangkan Amy dengan sabar menunggu. Sesekali dia menerima perintah dari telepon. Untuk menghibur dan mengusir kebosanan, Harry membelikan pemutar piringan hitam. Di panggung, Amy dan Harry membaca naskah di sisi kiri dan kanan panggung. Kadang bergantian atau saling mendekat. Namun adegan dalam film lebih kompleks, dengan latar lokasi yang beragam, seperti di kamar apartemen, taksi, gedung atau jalan-jalan di Berlin, dan taman. Tentu saja pertunjukan dalam dua “panggung” (teater dan film) ini tak mudah dicerna. Konsentrasi terpecah untuk melihat aksi penampil panggung dan di film. Meski begitu, ini sebuah pertunjukan yang menarik. Imitating the Dog menghadirkan pentas yang keluar dari pakem teater maupun film. Penonton disuguhkan pengalaman baru dalam menonton pertunjukan. Pete Brook menjelaskan bahwa pementasan ini merupakan proyek yang dipentaskan sebelumnya di Edinburgh. Mereka memilih setting 1950-an karena waktu ini merupakan periode yang menarik perang dingin. “Situasinya saat itu tak menentu, banyak orang dalam kebingungan,” ujar Brook seusai pementasan. Mereka merekam film bergaya lawas ini setahun lalu. Saat di panggung, para pemain membaca teks naskah film. Jika melihat pementasan, suara yang muncul tepat gerak bibirnya yang diucapkan. Terutama intonasi suara dan emosi Prendergast cukup pas. Para pemain mengenakan earphone untuk memudahkan saat pengucapan